Our Journey To The Neverland

by Annisa

jendelaku masih tetap terbuka. sengaja kubuka.
agar kau bisa leluasa menyelinap dan menculikku di malam hari.

aku rindu…
rindu bubuk terbang itu. yang menjadi alat transportasi untuk membawa kita ke Pulau Yang-Tak-Pernah-Ada.
tempat yang hanya kau dan aku yang tahu.

aku rindu bermain dengan peri yang menjatuhkan kilau emasnya di wajahmu. membuatmu tampak aneh, tapi mampu membuatku tertawa-tawa hingga sakit perut.

aku rindu ucapan selamat malam yang kau ucapkan sesaat sebelum menculikku.
ucapan itu terdengar seperti, “hai,selamat pagi. bangunlah,ini waktunya kita bermain.”

mana?
kenapa tak pernah lagi menjemputku?
yang ku tahu, aku masih belum beranjak.
aku belum menjejakkan satu langkah pun di dunia orang dewasa itu.

kenapa kau urung menjemputku?
apa sudah bosan bermain denganku?
aku masih percaya adanya peri.
aku pun masih percaya adanya kamu yang tak pernah menjadi tua.

atau…
memang tanpa sadar aku tak lagi percaya?