ini itu.

by Annisa

lampu jalanan mulai merajuk. pekat berlomba-lomba dengan kelelawar menguasai malam. sementara jiwa-jiwa terlihat lepas sementara dari raganya.
alam tertidur. tidak begitu dengan Tuhannya. yang Maha Terjaga dan Melindungi apa yang diciptakanNya.

ribuan nyawa lahir malam ini.
begitu pula sebaliknya.
banyak yang sedang meninggalkan kefanaan dari tempat tidurnya.
entah kapan giliranku.

mimpi sedang enggan menyapa malam ini.
digantikan oleh terang seratus watt yang mendera menyakitkan.

entah sejak kapan menjadi dewasa terasa menjemukan.
terikat aturan-aturan yang mereka bilang patokan.
terkekang istilah-istilah trendi yang diciptakan para penginjak bumi.
bahkan di antara mereka menjadi diri sendiri pun terasa memalukan.
saat keorisinilan tak lagi dipentingkan.
dicekoki sangkar bernama keseragaman.

kita harus begini dan mereka harus begitu.
sebaiknya kita begini agar mereka tidak begitu.
lebih baik kita begini daripada mereka yang begitu.
begini begitu. memusingkan.

yang ingin ku teriakkan:
“aku ingin begini! biarkan mereka begitu. sungguh aku ingin begini saja. tanpa harus mengkhawatirkan mereka yang begitu.”

atau,

“bisakah kita begini tanpa harus peduli mereka akan begitu?”

entah sejak kapan menjadi dewasa terasa menjemukan.