terasing.

by Annisa

sengaja mengikuti barisan semut merah di kolong meja.
aku bosan dengan pembicaraan orang-orang tua di sekitarku.
sekonyong-konyong ada seseorang yang berbaik hati menculikku dari neraka ini.

***

ada seorang anak laki-laki berdiri di depan sebuah rumah tua.
“aku mencari pintu masa lalu”, katanya.
aku hanya mengangguk lemah tanpa rasa ingin tahu.
aneh sekali. kedua kakiku masih menjejak tanah di sebelahnya.
padahal aku tak ingin tahu. apalagi peduli.

tiba-tiba anak itu menoleh ke arahku,
“coba lihat itu..”, katanya sambil menunjuk ke halaman rumah tua di hadapan kami.

ada pintu. hanya seonggok daun pintu.
tak nampak apa yang ada di baliknya.
“itu yang kucari..pintu masa laluku.”
“aku baru saja membeli kuncinya dari bapak tua di toko antik kota sebelah. dia bilang ini bisa membantuku kembali ke masa lalu. tapi kau tak boleh beritahu siapapun kecuali satu orang terdekatmu. jika dilanggar, kau akan terkunci selamanya disana tanpa bisa kembali lagi.” , ia menjelaskan panjang lebar.
“kau mau mencobanya?”
aku menggeleng.
“aku tak ingin mengintip apapun di balik pintu itu. kalau kau mau, pergilah sendiri.
bapak tua itu menipumu.
dengar, kunci yang kau beli itu hanya bisa kau pakai untuk masuk. bukan untuk keluar.”

lalu aku berlari meninggalkannya terpaku di sana

(…..)

***

30 Juli 2010. malam terlalu terang, bintang kesenangan. lukaku masih basah dan seekor semut jalan-jalan di atasnya.