Surat Kirana untuk Ibu

by Annisa

bu, aku rindu melihat bulan bersama ayah.
dongeng yang sama setiap malam tak pernah lagi terdengar.
ayah yang tegas tapi bisa melunak saat menggendongku di pundaknya.
kami punya kisah tentang bulan, bu.
ibu pasti tidak tahu karena ayah hanya punya cerita itu untukku.
tentang bulan sabit dan aku yang tak mau makan malam.

tapi kita juga punya rahasia, kan bu?
ibu ingat?
saat anakmu yang menginjak remaja mulai nakal, berbohong.
kau memarahiku habis-habisan.
lalu aku menangis, memohon maaf darimu dan ibu hanya diam
seribu bahasa dengan air muka yang mengeras.
tapi tak pernah sekalipun ibu mengadu pada ayah.

suatu malam aku memimpikanmu dan ayah,bu.
yang tertawa bahagia saat melihat ketiga anakmu bersenda gurau di ruang keluarga.
lalu aku mengintip kalian yang sedang duduk berdua di sofa kesayangan.
ayah pasti sedang memaksamu menemaninya menonton film kan,bu?
aku tahu itu. romansa yang mengakar di rumah hangat kita.
dulu rasanya jauh lebih nyata dari ini.
bukan mimpi.

ribuan foto yang kalian simpan di lemari kayu tua itu.
pernah suatu kali aku membongkarnya.
sungguh ribuan jumlahnya.
sungguh kalian senang sekali membekukan ingatan di dalam sebuah gambar.
aku takjub.
album-album foto di rak paling atas itu.
album milikku adalah yang terbanyak dari ketiga anakmu.
kami yang sedang dimabuk bahagia menyambut anak pertama, ayah bilang.
dan disanalah segala ekspresiku terekam
bahkan sejak operasi kelahiranku!
euforia ayah tak ada tandingannya ya,bu?

bu, aku pernah tumbuh menjadi gadis yang sangat pemalu.
entah kenapa bisa begitu
ibu pasti senang aku yang sekarang sudah jauh berubah.
atau mungkin sedih.
ibu yang paling tahu arti tatapan mataku.
ibu yang paling tahu sekuat apa hatiku.
ibu yang paling tahu apa yang tak bisa keluar dari mulutku.

tapi ada yang berubah, bu..
saat telinga tak saling mendengarkan
saat mulut tak lagi saling menahan diri
saat hati saling menutup diri

bu, sungguh cukuplah begini.
aku tak setangguh, secerdas dan serupawan mereka.
tapi aku punya sahabat-sahabat terbaik yang pernah ada.
yang mendengarkanku menangis dan ikut tertawa bersama.
dan ada seseorang yang sangat kusayangi.
yang mampu memikat hati dan mewarnai hari.
meski ku tak pernah tahu apa benar dia yang akan terakhir datang menghampiri.
“perjuangkan apa yang kau punya”, itu kata ayah.

dan aku mengingatnya, bu. sampai detik ini.
lalu kenapa hanya aku?

bahkan seorang pejuang yang baik pun harus tahu kapan saatnya berhenti memperjuangkan apa yang sia-sia untuk dipertahankan.

sekali ini saja, bu.
jangan dengarkan kata-kataku.

penuh cinta dan rindu,
Kirana.