dua menjelang tiga.

by Annisa

cahaya masih memperkosa mataku.
tanpa perlawanan berarti dan akhirnya tak bergerak lagi.
mati.

***

aku lupa sejak kapan kita terlena oleh jarak.
sudah terlalu nyaman sepertinya..
sampai-sampai takut untuk bangun pagi dan bertemu kenyataan.
sampai-sampai berdekatan menjadi sebuah kecemasan.

apa kelak akan begitu..
ketika pertemuan bukan lagi sesuatu yang ditunggu-tunggu
ketika tak ada tawa mengalir yang sanggup menahan hati untuk tetap duduk diam.
hanya perbincangan semu yang terjadi di dunia entah-apa-namanya.
lalu berjalan pulang dengan gontai.

aku hanya sedikit lelah untuk merindu.
mengertikah kamu?