cerita hujan

by Annisa

Hujan selalu senang turun di sore hari akhir-akhir ini.
Mendinginkan udara senja, lalu membuai seluruh indera manusia saat malam tiba.
Dan menghilang di pagi harinya.

Hujan turun ke bumi seperti hari-hari lainnya. Seperti sore-sore lain yang menjadi waktu favorit untuk menemani turunnya sang malaikat.
Dia mengantarkan malaikat kesayangannya untuk menghadiri pertemuan dengan malaikat-malaikat lain.
Mengantarkannya sampai depan pintu bumi.
Lalu meninggalkannya bercengkerama.
Dan hujan menunggunya di luar.

Mulai terdengar nyanyian dari dalam rumah. Semakin lama semakin jelas. Sejelas tengkuk terbuka yang dibelai angin dingin.

Hujan menderaskan aliran butir-butir kecilnya. Sengaja. Ia pasang volume terkencang. Agar samar-samar suara gelak tawa dari dalam tak terdengar.
Ia tak ingin dengar apapun. Tak ingin lihat apapun.
Cukup berjongkok menunggu di depan pintu sambil melantunkan nada-nada minor yang diucapkan dengan riang.
Lalu mengantarkan malaikatnya lagi pulang ke langit, tanpa banyak tanya.

***

Segumpal awan membisikkan sesuatu padaku sore ini. Sayang, bukan berita menyenangkan.
Tak mengapa. Aku sudah belajar caranya menjadi pendiam. Apapun yang diucapkannya bahkan tak bisa menembus selaput otakku.
…sementara hal terakhir yang dapat kulakukan adalah mempercayaimu.