Minor

by Annisa

Jari-jariku kebas. Efek terlalu lama memainkan coretan kuas di kanvas polos tak berdosa.
Ternyata sudah malam, sedikit telat ketika menyadari kulitku membiru. Kedinginan.

Aku bergeming, lalu menyulut sebatang rokok. Lumayan menghangatkan, bisikku pada diri sendiri.
Hisapan kedua dan aku terbatuk.
Setengah kaget menyadari apa yang sudah kulukis selama berjam-jam.
“..wajah ini lagi..”,
lalu nyeri luar biasa menyeruak dari dalam kepala.

***

Ia terdiam dengan pandangan menerawang.
Teringat mimpi-mimpinya beberapa malam ini lalu menghela napas panjang.
Serta merta bangkit dari kursi malas dan mulai mengusap lagi kanvas kosong di ruangan 3×4 itu.
“Seharusnya tak sesulit ini..”,ia bergumam.
Tak lama kembali hanyut dalam tarian jemarinya yang lentik memainkan kuas.

***

Gadis ini. Pemuda itu. Dan segala cerita yang mereka rangkai bersama waktu yang tertatih-tatih mengikuti di belakangnya.

—–

sore dingin dan sealbum The Milo.
kekosongan jiwaku…meratap..
Dipermainkan….