Desember.

by Annisa

Tenggat waktu semakin menipis. Semua orang berkejar-kejaran dengan menit yang tersisa. Terlihat berantakan sekali di mataku.
Sementara aku masih duduk memperhatikan. Tenang di sampingmu.

Mungkin aku sama dengan mereka.
Seperti mengejar kelinci berjas yang membawa jam bulat di kantungnya. Berisik mengingatkan “waktumu sebentar lagi, bergegaslah!”
Tapi rasanya kelinci ajaib ini susah sekali dikalahkan. Jadi biarlah saja begitu..

Entah apa yang bisa kulakukan untukmu selagi masih tak berjarak.
Ah, kasihan jarak. Belakangan semua memaki-makinya. Menjadi kambing hitam atas perasaan sedih yang menetes-netes di hati manusia.

“Yang penting kan ada yang tetap begini..”, ujarmu sembari mengaitkan dua telunjuk.
Itu obatku. Penawar darimu. Membuatku lupa ada sesuatu tak terlihat bernama jarak.

Hei, Tuan Desember..bisa tolong jaga kesehatanmu? Jangan menunda makanmu? Jangan terlewat ibadahmu? Berjanjilah seperti apa yang kujanjikan untukmu.
Sehat selalu..