Oksigen

by Annisa

Pernah ada yang menggelitik isi kepalaku, tentang bagaimana caramu menyublimkan rindu.
Karena aku selalu menafsirkannya sebagai zat padat yang seharusnya bisa kulihat dan kusentuh.
Sementara, kau membuatnya terlihat seperti zat gas yang tak pernah bisa tersentuh oleh tangan-tangan naifku.

Dan ternyata seperti itu..aku yang terlalu bodoh.
Bodoh untuk sudah meragukanmu.
Bodoh untuk tidak memilih mendengarkan apa yang tak bersuara, sementara dialah yang sungguh berteriak paling keras, menyampaikan sesuatu yang kau sebut ‘rindu’ dalam definisimu.
Gas-gas yang saat ini tengah memenuhi rongga dadaku sampai terasa begitu sesak.

Saat aku kehilangan kalimatku, dan kau yang menemukannya.