Cikini.

by Annisa

Cikini dan TIM ada di urutan teratas dalam kategori tempat-ngedate-andalan buat saya. Tentu saja alasan utamanya adalah jarak. Siapa bilang lapisan ozon yang menipis tidak punya andil dalam mengganggu kegiatan per-pacar-an anak muda jaman sekarang? Pasti belum pernah tahu rasanya naik motor dari Bintaro (kos pacar) ke Harmoni (kos  saya) di teriknya siang kota Jakarta. Oke, mungkin ini berlebihan. Intinya, kami lebih senang menghabiskan akhir minggu bersama di tempat yang tenang, tidak membosankan dan tidak membutuhkan jarak tempuh yang lebih jauh lagi (buat pacar saya).

Sampai hari ini kami belum bosan mendatangi tempat yang sama setiap minggunya. Bukan, kami bukan datang untuk menonton pertunjukkan teater di TIM. Mungkin bukan salah satu favorit saya. Saya hanya anak muda biasa yang sangat mainstream, yang lebih senang nonton film di XXI daripada pertunjukkan teater. (Cupu? Biarin.) Gini-gini saya masih bisa jatuh cinta pada pandangan pertama sama Sendratari Ramayana, dan punya keinginan untuk datang lagi untuk yang kedua, ketiga, keempat dan kesekian kalinya. XXI TIM terasa lebih menyenangkan untuk didatangi, lebih apa ya..lebih ‘tersembunyi’ mungkin tepat untuk mendeskripsikannya. Atau kalau kalian tak setuju, setidaknya itulah yang ada di pikiran saya. Terlebih, saya dan pacar mungkin bukan pecinta spot-spot penuh keramaian seperti yang ada di mall, misalnya. Oh ya, ‘tembok-tembok bercerita’ yang ada di komplek IKJ itu lho, suka!

Cikini. Saya belum pernah mengeksplor tiap sudutnya, hanya beberapa yang kerap didatangi. Entah, daerah ini terlihat begitu cocok diisi dengan berbagai kedai kopi dan warung yang menghambur di sepanjang jalanannya.
Belakangan, saya dan pacar suka ngopi-ngopi ganteng di Bakoel Koffie, Cikini Raya. Dan kami berencana akan mencoba satu persatu kedai-kedai cantik di sekitarnya. Mencicip dan memotret dan melihat-lihat dan tertawa-tawa konyol di dalam ruangan-ruangan cantik itu..sepertinya akan sangat seru😉