Cerita dari Keramaian.

by Annisa

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.01, artinya sudah satu jam lebih saya berdiri disini, di tengah ramainya antrean halte busway. Sembari sibuk mengatur jarak dan posisi supaya tidak terhimpit para pria, jemari saya aktif sekali di atas keypad smartphone ini. Sepertinya ada yang merasa jengah melihat tingkah saya yang terlihat asyik dengan dunia sendiri (oh,dia pasti tidak tahu saya sedang memperhatikannya dari sudut mata saya), banyak juga yang tampak tak peduli. Kami, manusia dari segala penjuru Jakarta, bahkan mungkin dunia, berkumpul menjadi satu disini. Berdesak-desakan mengantri bus demi bus yang lewat sampai kaki dan punggung kram. Mungkin kebanyakan dari manusia-manusia ini sedang membayangkan nikmatnya berselonjor santai di tempat tidur di rumah masing-masing. Berhalusinasi di tengah bau keringat dan sesak, saya membayangkan pria yang berdiri di depan saya adalah pacar, teman atau siapapun yang saya kenal. Yang punggungnya bisa saya pinjam sebentar untuk sekedar menempelkan jidat barang dua atau tiga menit demi menyalurkan energi ke organ bernama kaki. 

*

Ah, sedikit tentang pria tadi. Tingginya sekitar 170cm, ber-hoodie berwarna biru laut, ber-masker hitam dan terlihat earphone terpasang anteng di telinganya. Parfumnya enak sekali, semacam penyejuk di tengah bau ketiak yang semerbak. Saya sempat melihat sedikit aksi heroik yang ia ciptakan.

Saat kami sudah berhasil ada di barisan depan, saya baru sadar, tepat di sebelahnya ada ibu-ibu separuh baya yang terlihat kesusahan berdiri, sudah terlalu capek mungkin. Baru saja ibu ini akan menunduk untuk mengurut kaki, tiba-tiba antrean maju dengan liar. Bus kesekian sudah datang rupanya. Dan apa yang terjadi? Saya melihat pria ini menahan tangannya demi melindungi ibu ini supaya tidak terdorong jatuh, dan menyuruh sang ibu untuk masuk duluan ke dalam busway. Andai semua orang di dunia sepengertian itu.

*

 Ternyata menyenangkan bisa memperhatikan kegiatan orang lain diam-diam. Masker saya kali ini sangat membantu. Sedikit konyol karena merasa menang saat saya bisa melihat wajah telanjang mereka satu persatu, sedangkan mereka hanya bisa melihat sepasang mata saya. Hahaha.
Ada yang menguap lebaaar sekali, membuat saya ikut mengantuk. Ada yang mengucek mata dengan sangat kasar, ada yang bersenandung tidak jelas di tengah sumpeknya keramaian. Kalimat super pendek yang sangat sering terdengar adalah “Aduh!”, “Aw..jangan dorong-dorong dong” (sambil sengaja melempar badan ke depan). Manusia…

Mungkin di antara sekian puluh manusia di sini, ada yang tengah memperhatikan orang-orang di sekitarnya, mengamati dalam hati, tidak lepas tangannya dari gadget bernama smartphone, dan menuliskan apa yang ia lihat di dalam memopad untuk membunuh bosan atau melupakan sejenak kram di kaki dan punggung. Siapa tahu?