Kamu.

by Annisa

Dengan tiba-tiba kamu mengeluarkan benda kecil berbentuk persegi itu dari tasmu.
“Selamat tanggal 19, esti!”
Sedetik kaget lalu aku terkekeh, mengaku lupa tanggal hari ini. Kamu mencibir lalu ikut tertawa.
“Disimpan dulu, nanti aja bacanya..”, ujarmu. Terlambat, mataku sudah menyusuri barisan kalimat yang tertulis di sampul kado kecilmu.

20131019-215020.jpg

Mari aku bacakan..

Kepada esti annisa sudarsono, calon istriku, yang lucu dan baik, tetaplah bersabar, kurang dari 100 hari lagi kita akan tidur sekamar, berbicara tentang pekerjaan hari senin, membahas malam jumat, berhitung tentang jumlah anak, mendiskusikan apakah mobil eropa atau jepang yang menghiasi garasi kita. Kepada esti annisa sudarsono, calon ibu anak2ku, tetaplah bersemangat, kurang dari 100 hari lagi, aku akan selalu ada di sebelah kananmu saat badanmu demam dan jadi hangat, akan kusiapkan kompres dari handuk basah yang dingin, kusiapkan air putih banyak2 dan bila perlu akan kuberikan kepadamu ritual kuni pereda hangat, kerokan. Kepada esti annisa sudarsono, yang fotonya ada di selipan dompet dan pinggiran lemari baju, tetaplah percaya, kurang dari 100 hari lagi, aku akan menyambutmu setiap pagi, membangunkanmu untuk sholat subuh, menunggu kopi dan nasi goreng buatanmu sambil membaca koran atau buku-buku cerita mafia itali. Hei esti annisa sudarsono, kurang dari seratus hari lagi, dan jadilah kita pasangan terbaik di dunia, mungkin lebih baik dari batman and robin, tentu saja lebih baik, karena baik batman maupun robin sama2 berjakun. Jangan bermuram durja hei kamu esti annisa, karena kurang dari 100 hari lagi, aku akan ada disana saat kau tertawa ataupun saat kau menangis, bisa jadi saat itu aku adalah alasan utama yang membuatmu tertawa, atau malah jadi penyebab utama tangismu, tapi percayalah padaku, tujuan utama hidupku, selain masuk surga dan bermanfaat bagi umat manusia, adalah senyuman di wajahmu. Kepada esti annisa sudarsono, calon penyandang namaku, berbahagialah, karena kurang dari 100 hari lagi, kita akan bersama-sama menjadi tua, merencanakan jumlah anak, membincangkan dimana sebaiknya mereka kuliah, hingga akhirnya kita cukup duduk-duduk saja di kursi taman saat sore sambil bercakap-cakap tentang kesuksesan anak2 kita dan betapa tampannya si cucu pertama. Menikmati angin menjelang maghrib, pergi ke masjid bersama. Esti annisa sudarsono, tersenyumlah, kurang dari 100 hari lagi, kurang dari 100, berbahagialah esti, jaga senyummu sampai nanti, tapi untuk saat ini, mari kita nikmati bersama hari ini, hari bertanggal 19 ke empat puluh satu. Esti, aku mencintaimu. πŸ™‚

Tawaku lepas di sela komat-kamit membaca tulisanmu yang super panjang. Sementara kamu berpura-pura tidak melihat karena malu, tawaku mulai bercampur haru. Lalu diam-diam menyelipkan doa saat mengulangi tulisanmu di dalam hati.

20131019-223138.jpg